Kisah Lucu Ustad Dari Papua Mengislamkan Kepala Suku dengan Sabun dan Shampo


Fadlan Garamatan “Ustadz Sabun” yang Berhasil Mengislamkan Ribuan Orang Papua - Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI), Kamis (17/7) memberikan penghargaan kepada Ustadz Fadlan Garamatan atas dedikasinya berdakwah dan berhasil mengislamkan ribuan penduduk asli Irian Jaya atau Papua. Pemberian tersebut diserahkan dalam acara resepsi HUT KAHMI Ke-49 di Gedung Ballroom Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jl Senen, Jakarta. Wartawan panjimas.com sebelumnya berhasil mewancarai terkait perjuangannya dalam mengenalkan Islam di sana. Berikut adalah hasil reportasenya. Saat ini hijab menjadi trend dikalangan wanita Papua. Hal ini terkait dengan mulai berkembangnya Islam ditanah penghasil tambang terbesar di dunia tersebut. Hampir 60 % penduduk Nuu Waar (nama lain Papua). 147 masjid berdiri kokoh mengkumandangkan keagungan Allah dan menjadi pusat berkembangnya agama Islam. Mendapat Julukan Ustadz “Sabun” Yang menarik dakwah pertama yang dilakukan adalah dengan mengajari mandi menggunakan air bersih dan sabun serta sampo. “Perlu diketahui orang Papua banyak yang bertelanjang dan hanya menggukan koteka saja karena mereka diminta oleh misionaris” ujarnya kepada reporter panjimas.com beberapa waktu yang lalu. Tak hanya itu orang Papua tidak bisa mandi dan hanya diajari mandi menggunakan minyak babi oleh para pendeta gereja. Yang lebih memprihatinkan jika para wanita melahirkan mereka melahirkan dibawah pohon seperti hewan. Dan memotong tali plasenta menggunakan batu. Anak-anak mereka hanya boleh minum susu sebelah kiri saja. Karena payudara sebelah kanan harus digunakan untuk menyusui anak-anak babi. Sabun dan sampo adalah modal awal yang digunakan untuk mengajarkan Islam. Hal itu dilakukan karena mayoritas penduduk Papua tidak pernah mandi. Keadaan demikian terjadi karena mereka dipengaruhi oleh misionaris gereja sehingga mereka hanya memakai koteka (telanjang) dan jika mau mandi harus menggunakan minyak babi. Misionaris mempengaruhi bahwa cara ini untuk mempertahankan tradisi. “Saat mengajari mandi waktu dhuhur tiba lantas kami minta ijin untuk menunaikan sholat. Sholat dilakukan di atas panggung tidak bisa di tanah. Sebab kalau ditanah sering pakai oleh babi dan anjing.“ ujarnya. Usai ust Fadlan melakukan sholat kepala suku terlihat penasaran. Setiap gerakan kepala suku menanyakan apa maksudnya. Dengan cerdas dan bijak dijelaskan dengan logika yang bisa diterima oleh orang Papua. Alhamdulillah dengan ijin Allah beberapa kepala suku lantas berunding dan akhirnya mereka semua memutuskan untuk masuk Islam. “Hari ini kita bahagia kita senang anak ini telah mengajarkan agama yang benar. Dan kita akan mengikutinya“ teriak kepala suku diatas panggung menggunakan bahasa Wamena Mendengar penjelasan tersebut Ust Fadlan yang menjadi pengurus MIUMI dengan jabatan Paku Bumi (Pasukan Khusus Bela Umat Islam) beserta rombongan melakukan sujud sukur. Akhirnya 3712 orang dituntun pelan-pelan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Bersama Ust Fadlan Garamatan dengan pelan Islam disampaikan dipulau yang kaya akan hasil tambang tersebut. Berjalan digelap hutan belantara adalah hal lumrah yang dijalankan oleh para dai pedalaman tersebut. Mandi atau thoharoh merupakan metode dakwah awal yang dilakukan sebelum masyarakat Papua dikenalkan apa itu Islam. Strategi itulah yang kadang ia mendapat julukan sebagai Ustadz sabun. Selama 37 tahun lebih ustadz yang berasal dari Fak-fak tersebut mendedikasikan jiwa dan hartanya untuk mengislamkan masyarakat Nuu War. Karena wajahnya sudah dikenal maka rombongan Ust Fadlan tidak mengunakan pesawat dalam berdakwah. Selama 12 hari berjalan keluar masuk hutan akhirnya sampai di tempat yang dituju. 3 bulan dihabiskan dalam mengenalkan Islam didaerah tersebut. Hanya satu orang yang berhasil diIslamkan. Minimnya dana tak membuat ust Fadlan kendor. Ia pergi ke beberapa tempat di Indonesia untuk menyaikan perkembangan Islam di Nuu Waar. Dengan cara itualah ribuan pakaian pantas pakai peralatan mandi bisa didapatkan. Dan dakwah kembalil dilakukan. Tak semua orang mampu mengikuti model gerakan dakwah yang dilakukan oleh Ust Fadlan dan kawan-kawanya. Ada sebuah kisah menarik saat Ust Fadlan usai berkunjung disebuah Perguruan Tinggi Islam di Jawa. Ia berkenalan dengan salah seorang Ustadz dan diajaklah ustadz tersebut ke Papua. Mulai dari Nabire perjalanan ke pedalaman dilakukan. Saat baru satu hari ustadz tersebut bertanya “ ustadz Fadlan kapan sampainya ?“ lantas dijawab “belum“ begitu pula hari kedua. Dihari kelima Ustadz tersebut lantas memaki-maki ustadz Fadlan. “Kalau saya tahu dakwah seperti ini saya tidak mau ikut. Tolong pulangkan saya ke kota dan saya akan kembali ke Jawa Timur“

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Komentar